Bisnis Pengaman Kebocoran Gas Menggiurkan


Sebuah peluang usaha pun bisa digali dari konsumsi masyarakat tersebut. Salah satunya adalah bisnis pengaman tabung elpiji yang ternyata cukup menggiurkan. Mengingat jutaan rumah tangga di Indonesia kini telah menggunakan elpiji untuk keperluan rumah tangganya.
Betapa tidak, hampir seluruh masyarakat kini telah menggunakan elpiji untuk yang ukuran 12 kg. Belum lagi, sebanyak 40 juta rumah tangga yang masuk dalam program konversi energi dari kompor ke elpiji 3 kg.
Adalah M. Sairin, pria asal Tegal ini memiliki ide membuat pengaman tabung elpiji agar tidak bocor. Kisah suksesnya menciptakan alat sederhana penekan regulator terhadap valve sungguh brilian.

Ia mengaku terinspirasi dari sering bermunculannya kasus kebocoran tabung yang berujung maut di seluruh Indonesia, telah membawanya menjadi calon produsen pengaman tabung pertama di Indonesia.
“Pada awalnya saya sering mendengar banyak tabung meledak. Saya punya solusi  karena kurang tekan jadi bocor. Awalnya pakai karet, lalu tidak bocor, lalu saya punya ide membuat pengaman dari plat besi,” kata Sairin

Idenya dalam  membuat alat pengaman ini kata dia merupakan murni idenya sendiri. Saat ini ia sedang memproses tahap paten yang di fasilitasi oleh Departemen Perindustrian dan Departemen Hukum dan Ham.
Sairin mengaku produksi perdananya baru ia lakukan pada bulan Agustus 2009 lalu, saat ini sebanyak 3000-an pengaman tabung telah ludes terjual. Sayangnya kata dia, saat ini produk pengaman tabung ini belum banyak tersebar ke pasar secara umum. “Pakai alat saya ini dijamin nggak bocor,” tegas Sairin.
Melalui bengkelnya di Tegal, saat ini ia  mulai kebanjiran pesanan dari beberapa wilayah di Indonesia. Ke depannya ia berharap pihak Pertamina selaku pelaksana program konversi bisa mengajaknya untuk sebagai rekanan. Dimana alat pengaman tabungnya bisa menjadi paket pemberian tabung dan kompor program konversi. “Saya ingin kalau Pertamina sebagai bapak angkat, alat saya masuk dalam pembagian tabung dan kompor, jadi ada sehingga hak patennya terbantu,” tambah Sairin.
Tawaran Kemitraan
Sairin menambahkan, saat ini pemasaran produknya masih terbatas di wilayah  Jakarta dan Semarang melalui penjualan sendiri maupun beberapa rekanannya. Ia mengajak untuk bermitra dengan dirinya untuk sebagai agen penjualan atau pengecer.

Saat ini Sairin telah memiliki 10 orang karyawan dengan kapasitas produksi per harinya mencapai 1000 unit dengan memanfaatkan  bengkel bubut besar milik kakaknya. “Awalnya modal saya hanya Rp 10 juta, dengan margin Rp 2000 unit itu sudah lumayan. Tetapi bagi distributor atau pengecer bisa ambil kentungan bisa ratusan persen dari modal,” tambah Sairin.
Sairin menyarankan bagi para distributornya, untuk melakukan penjualan ke rumah-rumah, menjualan ke pengecer atau agen elpiji dan beberapa ajang pameran.
Sementara itu Subari salah seorang distributor skala kecil di Jakarta mengatakan ia belum lama menjual produk pengaman tabung. Namun dengan margin yang lumayan besar, bisnis ini cukup menjanjikan.
Setidaknya dalam satu hari dalam setiap ajang pameran atau mall, alat pengaman tabungnya laris terjual hingga 60 unit per hari. Ia mengaku dengan bermodal Rp 17.000, setidaknya ia bisa menjual hingga Rp 65.000 per unit.
“Saya sering jual di pameran, respon masyarakat sangat bagus. Biasanya saya jual sampai batas maksimal Rp 65.000 karena kalau pameran saya harus bayar sewa tempat yang mahal,” tambah Subari.
(rahmat saepulloh/ dtf)

0 komentar:

Post a Comment

Komentar Anda :